UA-66241364-1 LOVE SUMBAWA

Istana Dalam Loka

Istana Dalam Loka merupakan peninggalan bersejarah dari kerajaan yang berlokasi di kota Sumbawa Besar. Dalam Loka dibangun pada tahun 1885 oleh Sultan Muhammad Jalalludin III (1883-1931).

Pulau Moyo

Pulau Moyo merupakan salah satu objek wisata yang indah dan eksotis dari sekian banyak objek wisata yang berada di pulau Sumbawa. Pulau dengan luas kurang-lebih 32.000 hektar yang sebagian besar wilayahnya masih berupa hutan dan pantai yang alami dengan berbagai hewan yang hidup di dalamnya ini terletak sekitar 2.5 KM sebelah utara Pulau Sumbawa..

Tanjung Menangis / Ai Loang

Pantai ini memiliki keunikan dan keistimewaan yang mempesona. Salah satu ciri khas pantai tanjung menangis adalah Hamparan pasir putih, panorama sunset over the sea dan terumbu karang yang masih terjaga.

Kisah Inspiratif Pemuda Sumbawa

Metrotvnews.com, Jakarta: Muda, kreatif, dan pekerja keras. Sekilas terlihat pada sosok anak muda putra daerah Sumbawa. Belum lulus kuliah saja dia sudah mampu meraup untung puluhan juta rupiah layaknya bos kantoran.

Festival Moyo

Even tahunan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sumbawa mengkampanyekan pariwisata Pulau Sumbawa. Selain itu, mempublikasikan keanekaragaman dan kekayaan Tana Samawa (daerah Sumbawa) kepada masyarakat luar, baik nasional maupun internasional.

Friday, 14 August 2015

JEMBATAN SAMAPUIN SANGAT MEMBANTU MASYARAKAT


Peresmian Jembatan Samapuin

Pembangunan infrastruktur merupakan salah satu aspek penting dan vital untuk mempercepat proses pembangunan nasional. Infrastruktur juga memegang peranan penting sebagai salah satu roda penggerak pertumbuhan ekonomi. Ini mengingat gerak laju dan pertumbuhan ekonomi tidak dapat pisahkan dari ketersediaan infrastruktur seperti transportasi, telekomunikasi, sanitasi, dan energi. Oleh karena itu, pembangunan sektor ini menjadi fondasi dari pembangunan ekonomi selanjutnya.Untuk membuka akses jalan yang selama ini kurang optimal agar mampu meningkatkan aksesibilitas yang menunjang kegiatan sosial ekonomi masyarakat, Pemerintah Kabupaten Sumbawa membangun Jembatan Samapuin yang menghubungkan jalan Dr. Soetomo (Kelurahan Brang Bara) dengan Kelurahan Samapuin. Peresmian Jembatan Samapuin dilaksanakan pada Senin (19/1/2015).

Pada acara Peresmian Jembatan Samapuin yang dihadiri oleh Wakil Bupati Sumbawa, Sekda Kabupaten Sumbawa, Ketua DPRD Kabupaten Sumbawa, para anggota Forum Koordinasi Pimpinan Daerah, Bupati Sumbawa Drs. H. Jamaluddin Malik dalam sambutannya menyampaikanperesmian Jembatan Samapuin merupakan salah satu wujud nyata keberhasilan pembangunan di Kabupaten Sumbawa yang dilaksanakan secara terencana, terarah, terprogram dan terukur. Artinya, setiap program yang dilaksanakan ada tolok ukur yang bisa dijadikan indikator untuk menilai apakah suatu program bisa dikatakan berhasil atau tidak. Pembangunan infrastruktur khususnya jembatan merupakan keinginan masyarakat dan pemerintah daerah. Dalam hal ini, pembangunan Jembatan Samapuin telah mengeluarkan biaya yang cukup besar, yaitu mencapai 4,5 milyar rupiah. Pembangunan jembatan samapuin sempat terhambat, mengingat anggaran daerah yang terbatas, sehingga ada prioritas – prioritas pembangunan sarana umum yang lain yang harus diutamakan.

Peresmian Jembatan Samapuin merupakan salah satu kado dalam momentum HUT Ke 56 Kabupaten Sumbawa. Semoga dengan peresmian jembatan Samapuin dapat menjadi penyemangat agar masyarakat bisa bekerja lebih giat lagi dalam mewujudkan perekonomian Kabupaten Sumbawa yang lebih maju.

Kegiatan yang dilaksanakan saat ini tentunya bukan sebuah gebyar atau kegiatan glamor apalagi hura-hura, tetapi dimaksudkan sebagai momentum membangun kebersamaan antara para stake holders pembangunan, yaitu pemerintah (baik eksekutif maupun legislatif) beserta seluruh elemen masyarakat.

Jembatan Samapuin ini pun sangat dimanfaatkan manfaatnya oleh masyarakat. selain mempermudah akses dan menghemat waktu dan biaya juga dengan adanya jembatan ini masrakat bisa melihat potensi lain terkait aliran sungai brangbara misalnya keramba, wisata kuliner. dengan demikian untuk kedepannya jembatan samapuin ini tidak hanya diakses oleh masyarakat samapuin saja tetapi akan bermanfaat bagi wisata.



Thursday, 13 August 2015

Kenali Budaya Sumbawa - SAKECO



Sakeco merupakan salah satu bentuk seni yang bersumber dari Lawas. Sakeco banyak digemari oleh masyarakat (Tau Samawa) Sumbawa. Sakeco dimainkan oleh dua orang pria yang merupakan pasangannya dan masing-masing memegang satu rabana (rebana). Rebana yang digunakan adalah bisa Rabana Ode atau Rabana Rango/Rabana Kebo (Rebana Besar). Penggunaan dua jenis rebana ini didasarkan pada temung yang akan digunakan. Hanya saja, pada saat Sakeco, rabana yang digunakan harus sejenis.
Perbedaan penggunaan dua jenis rabana ini karena perbedaan Temung (nada lagu), dan isi Sakeco. Rabana Ode lebih lincah, agresif, lebih variatif, dan jika ditabuh maka akan lebih cepat. Rabana Ode biasa dipakai untuk memainkan temung Sakeco Ano Rawi, sedangkan Rabana Kebo selain mengeluarkan suara lebih besar, temponya lambat, dan juga lebih monoton dari segi nada. Rabana Kebo biasanya digunakan oleh sebagian besar orang Sumbawa Ano Siup.
Sakeco merupakan seni yang sangat luwes dan dinamis dibandingkan dengan yang lain. Sakeco dapat dimuati oleh Lawas Nasihat (pamuji); Lawas Tau Loka, Lawas Muda-mudi, Lawas tode yang dibuat dalam bentuk tutur (cerita naratif).

Sumber: http://kemassamawimultiproduction.blogspot.com/2009/05/lawas-dalam-kehidupan-masyarakat.html

Lawas merupakan seni yang tidak terpisahkan dari setiap kegiatan adat sumbawa. Kami memiliki banyak kumpulan lawas sumbawa yang bertema nasehat, rayuan atau percintaan kunjungiKumpulan Lawas Sumbawa Kami Klik Disini.


Kenali Budaya Sumbawa - LANGKO


Langko merupakan penyampaian Lawas yang dilakukan oleh sekelompok pemuda dan kelompok pemudi yang saling beradu Lawas cinta. Lawas-Lawas yang disampaikan dalam Langko berbeda dengan Lawas Sual. pada saat Malangko, Lawas yang disampaikan harus dijawab dengan Lawas, yang perlu diperhatikan dalam Malangko adalah langgam lagu Lawas yang dibawakan. Langgam lagu Langko ini yang sangat diperhatikan oleh si pelantun, selain juga Lawasnya. Jika tidak mampu mengikuti langgam lagu Langko, maka dianggap kalah, ditertawakan, dan juga malu. Mereka yang akan ikut Malangko harus orang-orang yang pandai baLawas dan juga pandai menembangkan langgam Langko.
Kegiatan Malangko biasanya dimanfaatkan oleh para muda-mudi untuk mencari jodoh, oleh karena itu muda-mudi di Sumbawa pada waktu itu berusaha semaksimal mungkin untuk bisa BaLawas. Mereka yang bisa BaLawas di Sumbawa akan mempunyai pergaulan yang luas. Di Sumbawa ada dikenal tiga jenis orang, yakni: Nyir Tamat Telu (bisa membaca Al-Quran); bisa Ratob; dan bisa BaLawas. Lawas Langko.
Putra :
Kusamula Ke Bismillah
Kusasuda Ke Wassalam
Nan Ke Salamat Parana
(kumulai dengan bismillah-kuakhiri dengan wassalam-agar diri jadi selamat)
Putri:
Rungan Rame Boat Sia
Bagentar Tana Samawa
Batomo Nyata Kugita
(kabarnya meriah pesta Tuan—bergetar tanah Sumbawa—kini nyatalah sudah)
Putra:
Tugitaq Nyata Ke Mata
Riam Mara Den Baringin
No Bola Ne Bawa Rungan
(nyata terlihat mata—lebat bagai daun beringin—tidak bohong pembawa berita)
Putri:
Rungan Balongmu Andi E
Kaleng Empang Ko Sakongkang
Nomonda Dengan Kubaning
(tersiar kecantikanmu duhai dinda—dari empang ke Sekongkang—tiada tanding tiada banding)

Sumber: http://kemassamawimultiproduction.blogspot.com/2009/05/lawas-dalam-kehidupan-masyarakat.html

Lawas merupakan seni yang tidak terpisahkan dari setiap kegiatan adat sumbawa. Kami memiliki banyak kumpulan lawas sumbawa yang bertema nasehat, rayuan atau percintaan kunjungiKumpulan Lawas Sumbawa Kami Klik Disini.


Kenali Budaya Sumbawa - Basual



Kata basual berasal dari kata sual yang mendapat awalan ba-, sual berarti soal, sedangkan ba- berarti menjadi. Jadi, basual artinya menyampaikan soal. Seseorang yang mengajukan soal yakni dengan menyampaikan sampiran dari sebuah Lawas. Bagi yang hadir dalam kesempatan tersebut dan mengetahui jawabannya, maka akan segera menjawabnya. Jawaban yang disampaikan adalah isi dari sampiran yang dikemukakan.
Kegiatan Basual dapat dijumpai pada saat orang sedang membuat atap rumah (Nyantek), panen (Mataq Rame), di rumah orang yang mau kawin (Montok Basai), dan lain-lain. Contoh petikan Lawas Sual.

Ayam Buri Desa Utan
Parak Ke Desa Samamung
Ana Badi Kuring Rate
Meporiri Ku Ta Intan
Jarang Kubau Batemung
Rosa Dadi Rusak Ate
(Ayam burik desa Utan—dekat dengan desa Samamung—ada badikku di rate. Betapalah caraku duhai kekasih—sangat jarang kita bertemu—hancul luluh hatiku)
Lalo Mancing Ko Pamulung
Entek Lako Desa Pungka
Kupandang Desa Malili
Lalo Kau Manjeng Urung
Kukelek No Balik Bungkak
Mumandang Adasi Lili
(pergi memancing ke Pamulung—naik ke desa pungka—kupandang desa Malili. Pergilah engkau kekasih urung—kupanggil menoleh pun tidak—kau kawin ada juga penggantimu)

Sumber: http://kemassamawimultiproduction.blogspot.com/2009/05/lawas-dalam-kehidupan-masyarakat.html

Lawas merupakan seni yang tidak terpisahkan dari setiap kegiatan adat sumbawa. Kami memiliki banyak kumpulan lawas sumbawa yang bertema nasehat, rayuan atau percintaan kunjungiKumpulan Lawas Sumbawa Kami Klik Disini.


Kenali Budaya Sumbawa - Badede



Badede adalah menembangkan Lawas yang ditujukan untuk Anak menjelang tidur atau saat pangantin sedang Barodak ‘luluran’. Lawas yang biasa dinyanyikan oleh seorang ibu atau kakak yang sedang menina-bobokan atau mengasuh bayi disebut (Badede Anak). Lawas yang dilantunkan pada saat Badede Anak bertemakan permohonan kepada Tuhan Yang Mahaesa agar Anak yang diasuh dapat panjang umur, berguna bagi orang tua, masyarakat, nusa dan bangsa serta agama. Badede Anak disebut juga Lawas Kembang-Kembong.
Lawas yang digunakan pada saat Badede Anak tidak sama, tergantung pada umur dan pada tempat dimana Anak ditidurkan. Perbedaan itu terlihat pada irama dan kata-kata dari Lawas yang digunakan. Berikut ini contoh Lawas yang biasa digunakan pada kegiatan Badede Anak.
Matunung adi matunung
Meleng tunung kubeang me
Jangan jadi kembo kopang
(mari tidur adik mari tidur—bangun tidur kuberi nasi—ikan susu kerbau sehat)
Adi ode dalam bilik
Nyentik ima poyong mama
Sadua kita gamandi
(Adik Mungil dalam kamar—lentik indah jemarimu—kita ini hanya berdua wahai adinda)
Badede Adat hanya berkembang di kalangan bangsawan Samawa (Sumbawa). Badede Adat dilaksAnakan pada saat upacara perkawinan dan Sunat Rasul (khitanan). Badede Adat ditembangkan oleh beberapa wanita sambil membunyikan Kosok Kancing (sejenis marakas). Badede Adat dilantunkan dalam suasana yang relegius dan dihajatkan agar mereka yang menerima acara ini dalam keadaan selamat serta tidak mudah diganggu makhluk halus.
Salah satu upacara yang diiringi Badede Adat adalah pada saat kegiatan Barodak (luluran pengantin, baik pria maupun wanita) keluarga bangsawan. Pengantin pada saat mau di-Odak (dilulur), maka sekelompok wanita melantunkan Lawas Badede Adat. Lawas yang dilantunkan pada saat Barodak adalah sebagai berikut.
Dede Intan Mua Dewa
Mua Bulaeng Do Nanta
Penangmo Intan Manmo Nanges
(Duhai sayang duhai para Dewa—wahai permata duhai sayang—tenanglah sayang jangan menangis)

Lamin Leq Tawar Ate
Dome No Mane Parana
Siong Untung Sama Rela
Untung Tusaling Sasakit
(Bila lama kau menangis—andaikan tidak merusak tubuh—bukanlah jodoh sama rela—jadinya jodoh pangkal sengsara)
Penangmo Intan Manmo Nangis
Beang Boe Ling Tutingi
Kita Tupasodo Rara
Pasodo Apa Pasodo
(Tenanglah sayang jangan menangis—biarkan habis oleh yang mulia—kita hanya mendekap dalam kemiskinan—milikilah apa yang kau miliki)


Sumber: http://kemassamawimultiproduction.blogspot.com/2009/05/lawas-dalam-kehidupan-masyarakat.html

Lawas merupakan seni yang tidak terpisahkan dari setiap kegiatan adat sumbawa. Kami memiliki banyak kumpulan lawas sumbawa yang bertema nasehat, rayuan atau percintaan kunjungiKumpulan Lawas Sumbawa Kami Klik Disini.


luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com