UA-66241364-1 LOVE SUMBAWA

Istana Dalam Loka

Istana Dalam Loka merupakan peninggalan bersejarah dari kerajaan yang berlokasi di kota Sumbawa Besar. Dalam Loka dibangun pada tahun 1885 oleh Sultan Muhammad Jalalludin III (1883-1931).

Pulau Moyo

Pulau Moyo merupakan salah satu objek wisata yang indah dan eksotis dari sekian banyak objek wisata yang berada di pulau Sumbawa. Pulau dengan luas kurang-lebih 32.000 hektar yang sebagian besar wilayahnya masih berupa hutan dan pantai yang alami dengan berbagai hewan yang hidup di dalamnya ini terletak sekitar 2.5 KM sebelah utara Pulau Sumbawa..

Tanjung Menangis / Ai Loang

Pantai ini memiliki keunikan dan keistimewaan yang mempesona. Salah satu ciri khas pantai tanjung menangis adalah Hamparan pasir putih, panorama sunset over the sea dan terumbu karang yang masih terjaga.

Kisah Inspiratif Pemuda Sumbawa

Metrotvnews.com, Jakarta: Muda, kreatif, dan pekerja keras. Sekilas terlihat pada sosok anak muda putra daerah Sumbawa. Belum lulus kuliah saja dia sudah mampu meraup untung puluhan juta rupiah layaknya bos kantoran.

Festival Moyo

Even tahunan bagian dari upaya Pemerintah Kabupaten Sumbawa mengkampanyekan pariwisata Pulau Sumbawa. Selain itu, mempublikasikan keanekaragaman dan kekayaan Tana Samawa (daerah Sumbawa) kepada masyarakat luar, baik nasional maupun internasional.

Monday, 11 July 2016

Info Sekolah Gratis

Mau share info

KABAR GEMBIRA!!!
bagi yang *PUTUS SEKOLAH SMP*

Mohon dibantu share ke saudara ataupun tetangga...

Bagi siapapun yg putus sekolah karena :
1. kendala biaya
2. bekerja stlh lulus SMP

BISA melanjutkan sekolah dengan mendaftar ke SMATJJ (SMA Terbuka Jarak Jauh) yg induknya di Prov Jatim ada SMAN 1 KEPANJEN.

Syarat umum:
1. Usia maks 18 th
2. Memiliki Ijazah SMP
3. Belum menikah
4. Memiliki Akta Kelahiran / Surat Keterangan Lahir
5. Bersedia mengisi surat pernyataan bermaterai perawatan pinjam tablet milik negara mulai masuk SMATJJ sampai lulus.

Model pembelajaran melalui LMS ( _Learning Management System_ ) yg dibuat oleh Kemendikbud Dikmen PKLK.

Siswa tidak ada jadwal ke sekolah setiap hari. Hanya ketika MOS, UTS, dan UAS saja harus datang tatap muka dengan Tutor di Induk (SMAN 1 KEPANJEN)

Proses KBM dilaksanakan online oleh siswa dipandu tutor masing" mapel melalui LMS. Seminggu 4x pertemuan online

Fasilitaa yg didapat masing" siswa:
1. Tablet ASUS lengkap dg kartu telpon Simpati AS.

2. Pulsa bulanan dari pemerintah melalui kerjasama dg telkomsel.

3. Seragam sekolah putih abu" dan pramuka.

4. Uang transport jika ada kegiatan di induk.

5. Ketika sdh lulus, Ijazah SMA tidak tertera SMA Terbuka Jarak Jauh, tetapi dibawah legalitas skolah induk, yaitu SMAN 1 KEPANJEN.

Setelah lulus bisa melanjutkan ke UNIVERSITAS TERBUKA, sesuai jurusan yang diinginkan...

Di Seluruh Indonesia hanya ada 5 titik SMATJJ ini. Papua, Sorong, Raja Ampat, Bandung, dan Kab. Malang

Pendaftaran paling lambat 20 Juni - 30 Juli 2016

More info bagi yang serius bisa
Hub :
Reni 082234457536
Ditya 083834491983

Wednesday, 24 February 2016

Lowongan Kerja Lulusan Kesehatan

Lowongan Kerja sebagai enumelatir, bagi yg sesuai persyaratan segera masukin lamaran ya.
Tersedia wilayah sumbawa, lombok tengah, dll.

Sunday, 16 August 2015

Budaya Sumbawa - Sastra Jontal

a[1]

SATERA JONTAL

SEJARAH SATERA JONTAL
Satera jontal merupakan alat komunikasi yang diwujudkan berbentuk lambang, yang di mana setiap lambang tersebut memiliki arti sendiri. Dinamakan satera jontal, karena tulisan in banyak dituliskan di atas Jontal Atau Daun Lontar. dan Satera merupakan sastera dalam bahasa Indonesianya. Daun lontar merupakan tanaman yang banyak tumbuh didataran sumbawa. Untuk menulis Satera Jontal bukan menggunakan tinta, namun bara apilah yang digunakan untuk menggores permukaan lontar tersebut sehingga berbentuklah kalimat.
Peninggalan Satera Jontal masih ada di Sumbawa, dan itu merupakan barang sejarah yang harus di lestarikan. Yang sangat disayangkan adalah generasi muda sumbawa sekarang masih awam dengan satera jontal ini.
A. Hijaz HM, mengatakan Hasil penulisan satera jontal yang ditulis dalam sisir daun lontar, disusun tiga yang dinamakan Bumung. Cerita dari nenek moyang secara turun temurun, tulisan-tulisan di bumung tersebut berisikan cerita mengenai gelar dan keturunan kerajaan, Dea Datu, syair pujian ( lawas pamuji), semacam mantera untuk ilmu kebatinan ( pangeto), dan segala macam nasehat-nasehat untuk kehidupan.
Menurutnya, Satera Jontal ini dibawa oleh pedagang dari bugis makasar. Namun dalam perkembangannya, pengucapan dan logatnya mengalami perubahan sesuai dengan kegunaan dan wilayah masing-masing, sehingga ada satera jontal Ano Rawi (KSB) dan Ano Siyop ( Sumbawa timur). Namun demikian tidak ada perdebetan tentang Satera Jontal karena para ahli bahasa Sumbawa sepakat bahwa perbedaan tersebut adalah kekayaan budaya tana Samawa.
Satera Jontal juga memiliki beberapa kesamaan dengan Aksara Bugis
Aksaara_Bugis[1]
Aksara Bugis
satera%2BjontalE[1]
Satera Jontal
Seiring perkembanganya IPTEK, Satera Jontal di Sumbawa saat ini hampir punah. Budayawan muda Sumbawa Syukri Rahmat S.Ag merasa prihatin, Karena sebagian besar masyarakat Sumbawa tidak mengenali huruf daerahnya dan tidak paham sama sekali yang namanya Satera Jontal.
Dalam Kaitannya dengan Budaya dan Pariwisata, Pemerintah harus membuat Trade mark atau khas Sumbawa yang tidak ada di Daerah lain. Hal ini dimaksudkan agar tamu yang datang ke Sumbawa, ketika melihat Sumbawa, melihat sesuatu yang baru, melihat sesuatu yang unik yang tidak terdapat di Daerah lain.
MEMPELAJARI SATERA JONTAL
Sebenarnya bila kita ingin mempelajari Satera Jontal ini sangat gampang, namun hanya saja kita jarang di kenalkan atau melihat Satera Jontal di dalam kehidupan kita. Maka dari sekarang kita akan belajar Satera Jontal:
Dasar[1]
Dasar Dari Satera Jontal
Huruf
Huruf Satera Jontal
Nah kawan mungkinb sekian dulu yah dari saya…
Ingat budayakan budaya kita
“Suatu Duku Bangsa Akan Mati Apabila Budayanya Mati”

Sumber: https://yogaadiseptiyan.wordpress.com/

Budaya Sumbawa - Adat Perkawinan


Prosesi Pernikahan Tau Samawa atau masyarakat Sumbawa sebenarnya tidaklah jauh berbeda dengan masyarakat lain di Indonsia. Namun tentu adat istiadat yang menyertai prosesi itu sangat berbeda dan punya keunikan tersendiri.
Dahulu sepasang calon pengantin tidak pernah saling mengenal satu sama lain dan jodoh mereka diperoleh dari pemberian atau keinginan orang tua. Cara ini dikenal dengan sebutan “ Samulung “ atau dijodohkan oleh kedua orang tua masing-masing. Sebelum terjadi kecocokan atau kesepakatan antara kedua orang tua, pihak laki-laki akan melakukan penjajakan terhadap si gadis, mungkin dia sudah dijodohkan oleh orang tuanya dengan pria lain. Prosesi ini dikenal dengan “ Bajajak “. Ketika dipastikan si gadis tidak di Samulung-kan oleh orang tuanya dengan pria lain, maka orang tua si pria akan datang menemui orang tua si gadis menyampaikan keinginan nya untuk menikahkan putranya. Cara ini dikenal dengan istilah “ Olo Leng “ sekaligus mengikat kedua anak-anak mereka agar tidak dijodohkan dengan orang lain.
“ Olo Leng “ ini merupakan pra meminang dari orang tua si pria. Baru setelah ada kesiapan terutama materi atau biasanya sesudah panen, orang tua si laki-laki akan mengutus orang lain untuk secara resmi melamar si gadis atau yang dikenal dengan “ Bakatoan “. Ketika lamaran itu diterima maka biasanya diteruskan atau selang beberapa hari dengan “ Basaputis “ yakni memutuskan segala sesuatu yang berhubungan dengan rencana pernikahan kedua putra-putri mereka. Dalam “ Basaputis “ inilah sering terjadi tawar menawar antara kedua belah pihak bahkan bisa berakibat batalnya rencana pernikahan itu ketika orang tua dan keluarga si gadis meminta atau “ Mako “ sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh orang tua si laki.
“ Pe-Mako “ atau permintaan orang tua si gadis meliputi “ Pipis Belanya “ ( sejumlah uang ) kemudian “ Isi Peti “ ( berupa emas perhiasan ) “ Isi Lemari ( pakaian si gadis,mulai dari sandal hingga sanggul rambut ) dan “ Soan Lemar “ ( berupa beras,gula,minyak,kayu bakar dll termasuk seekor kerbau atau sapi ). Semua ini akan dipergunakan untuk menopang prosesi perkawinan yang dilaksanakan ditempat si gadis.
Setelah semua beres, maka ditentukanlah hari baik untuk memulai prosesi ini. Diawali dengan “ Barodak “ calon pengantin atau bersamaan dilakukan dengan upacara “ Nyorong “.
Prosesi Barodak - Budaya Sumbawa
“ Barodak “ kira-kira sama dengan luluran di Jawa. Di Sumbawa mengunakan bedak tradisional yang dibuat khusus oleh orang khusus pula dan biasanya seorang wanita. Orang inilah yang nantinya akan menjadi “ Ina Odak “ atau ibu asuh calon pengantin wanita selama prosesi perkawinan ini.
Sementara “ Norong “ ; adalah sebuah upacara adat yang melibatkan banyak orang dari pihak laki-laki. Apa yang sudah diputuskan dalam acara “Basaputis” sebelumnya akan diantarkan ke pihak wanita melalui upacara Adat Nyorong ini. Disinilah bahasa-bahasa puitik Tau Samawa yang dikenal dengan sebutan “ Lawas “ di “ Sier ) atau dilantunkan oleh kedua belah pihak. Rombongan dari pihak laki-laki tidak akan diizinkan masuk ketempat upacara apabila tidak bisa melantunkan bait-bait Lawas. Pintu masuk yang disebut dengan “ Lawang Rare “ pun ditutup.
Prosesi Nyorong - Budaya Sumbawa
Lawas Pihak Pria :
Kamu Pesan Kami Datang ( Kalian Undang Kami Datang )
Lawang Mu Purat Ke Barit ( Mengapa Pintu Ditutup )
Ya Mu Ano Ke Nyonde Ta. ( Panas Lah Kami Semua )
Kira-kira itulah bait-bait awal Lawas pihak laki-laki yang tentu saja diterima dengan lawas oleh pihak wanita:
Malema Sempu Malema ( Mari Kerabat Marilah )
Sapuan Mo Le Ku Tari ( Sudah Lama Kami Menunggu )
Tutu Lampa Ka Leng Tutu ( Benar Juga Kata Terucap )
Itulah serangkaian acara pada upacara Nyorong dan dilanjutkan dengan serah terima secara simbolis semua barang-barang bawaan pihak laki-laki berupa Pipis Belanya,Isi Peti,Isi Lemari dan Soan Lemari.
Selain itu ada simbol-simbol yang mengandung falsafah dari upacara Nyorong ini. Pihak laki-laki biasa nya menghiasi kendaraan mereka dengan beberapa batang Tebu yang melambangkan keperkasaan seorang pria. Sedangkan dirumah calon pengantin wanita biasanya akan terlihat sebatang pohon pisang, symbol sebuah nasehat;
Mara Punti Gama Untung
Den Kuning No Tenri Tana 
Mate Bakolar Ke Lolo
Lawas diatas menontohkan pohon pisang. Walau dahannya menguning, takkan jatuh ke tanah. Sampai mati pun tetap bersama
Ahmad Zuhri Muhtar
Sumber: http://www.sumbawanews.com/node/5186

Sejarah Sumbawa - Kelebat Istana Dalam Loka


Tana Samawa, begitu orang-orang menyebut alam yang terkembang ini. Penduduknya, yang disebut Tau Samawa, berdiam di kaki-kaki bukit dan pesisir-pesisir pantai.
Pada mulanya, Tana Samawa, yang disebut Sumbawa, adalah negara berbentuk kesultanan. Teritorinya meliputi lebih dari separuh pulau Sumbawa. Dan hari ini, Sumbawa menjadi wilayah Indonesia dengan status kabupaten di Provinsi Nusa Tenggara Barat.
Seperti halnya di wilayah-wilayah lain, Sumbawa juga merupakan negeri Melayu dengan pengaruh dari Bugis. Berbagai atribut yang digunakan masyarakat memang atribut Melayu, seperti senjata, pakaian, penamaan gelar, atau rumah panggung. Di antara jejak kebesaran negeri ini terletak pada istananya yang bernama Dalam Loka. Istana Dalam Loka yang juga berbentuk rumah panggung ini bahkan disebut-sebut merupakan rumah panggung terbesar di dunia.

Istana yang dibangun pada 1885 ini memiliki makna yang merujuk pada Islam hampir di seluruh lekak lekuknya. Bahkan, pemaknaan itu sudah dimulai dari masa pembangunannya, yakni selama sembilan bulan 10 hari, yang sesuai dengan masa kandungan lahirnya manusia. Adapun arsitek dari istana ini adalah salah seorang ulama besar Taliwang (Sumbawa Barat sekarang).
Hasanuddin, Wakil Ketua Lembaga Adat Tana Samawa, mengatakan bahwa masa pengerjaan itu memang sesuai dengan zamannya. Saat itu, Sumbawa sedang menghadapi datangnya sebuah era baru, yang ditandai dengan makin sempurnanya bentuk dan struktur pemerintahan.
Selain masa pembangunan, makna juga terdapat pada bagian lain dari istana ini. Sebut saja bentuk bangunannya yang beratap kembar dengan satu tangga yang tidak persis berada di tengah. Hal ini memang dirujukkan pada salah satu bagian dari salat, yakni gerakan jari saat tahyatul (mengangkat jari telunjuk sementara jari lain tergenggam tak penuh).
Pucuk dari tangga yang berbentuk tanduk kerbau juga melambangkan pemaknaan tertentu. Kerbau ini diperoleh dari Sulawesi Besar yang memberikan pengaruhnya yang kuat terhadap Sumbawa. Kerbau dipandang sebagai simbol makhluk yang memiliki kekuatan dan bersifat gaib.
Sementara itu, tiang-tiangnya sendiri berjumlah 99 buah. Angka ini merujuk pada nama-nama Allah yang juga berjumlah sama. Maksudnya, siapapun sultan, pimpinan, atau pejabat Sumbawa semestinya mensifati dirinya dengan sifat-sifat Allah, seperti bijaksana, mengasihi, dan menjadi rahmat bagi rakyat.
Short URL: http://www.lenteratimur.com/?p=6883



luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com